LAMONGAN, Radar CNN Online — Malam Idulfitri di Desa Tritunggal Grogol, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, selalu menghadirkan suasana yang memikat. Di tengah arus modernisasi, warga setempat tetap konsisten melestarikan tradisi takbir keliling sebagai bentuk syiar agama sekaligus warisan budaya yang sarat makna.
Meski pelaksanaan takbiran di berbagai daerah di Indonesia memiliki perbedaan, masyarakat Desa Tritunggal memiliki cara khas dalam mengekspresikan kegembiraan menyambut hari kemenangan.
Simbol Kekompakan Lewat “Ocor Babuh”
Salah satu ciri utama tradisi ini adalah pawai berjalan kaki yang diikuti warga dengan membawa ocor babuh atau obor bambu. Cahaya api yang menyala berderet tidak hanya berfungsi sebagai penerangan, tetapi juga menjadi simbol kekompakan dan kehangatan hubungan antarwarga.
Iring-iringan pawai semakin semarak dengan berbagai kreativitas masyarakat, di antaranya:
• Musik perkusi, berupa tabuhan bedug yang ritmis mengiringi lantunan takbir.
• Parade lampion, dengan beragam bentuk unik yang memperindah suasana sepanjang jalan desa.
Lebih dari Sekadar Tradisi Religi
Tradisi takbir keliling di Desa Tritunggal tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi ajang mempererat hubungan sosial masyarakat.
“Takbiran di sini menjadi momen untuk memperkuat silaturahmi. Perbedaan cara pelaksanaan justru mencerminkan kekayaan kearifan lokal,” ujar Siswanto, salah satu warga setempat.
Kentalnya nuansa budaya menjadikan tradisi ini sebagai identitas yang membanggakan bagi masyarakat Desa Tritunggal. Di tengah perkembangan zaman, derap langkah warga dan gema takbir yang berpadu dengan cahaya obor tetap menjadi cara yang bermakna untuk merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.
Redaksi: Siswanto
Posting Komentar