PROBOLINGGO, Radar CNN Online – Suasana malam ke-27 Ramadan di Kota Probolinggo terasa semakin semarak dengan adanya tradisi khas masyarakat yang dikenal dengan sebutan Bibibi. Tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun ini dapat dijumpai di beberapa wilayah, salah satunya di Kelurahan Jrebeng Wetan, Kecamatan Kedopok, tepatnya di RT 05/RW 01, Senin (16/3) sore.
Ratusan warga tampak berkumpul di pekarangan salah satu rumah warga. Suasana Bibibi semakin meriah dengan kehadiran Wali Kota Probolinggo, Dokter Aminuddin, yang didampingi Ketua TP PKK, Dokter Evariani. Turut hadir pula Pj Sekda Rey Suwigtyo, serta sejumlah kepala perangkat daerah, camat, dan lurah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo, Siti Romlah, menjelaskan bahwa Bibibi merupakan tradisi yang telah mendapatkan pengakuan dari Kementerian Kebudayaan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) milik Kota Probolinggo. Tradisi ini diperkirakan telah ada sejak masa kolonial sekitar tahun 1746.
“Tradisi ini terus dilestarikan oleh para maestro secara turun-temurun hingga saat ini. Istilah Bibibi sendiri berasal dari kebiasaan kaum ibu-ibu yang membagikan sesuatu. Dalam bahasa Madura, ibu sering disebut ‘bibi’ atau ‘bebek’, sehingga tradisi ini dikenal dengan sebutan Bibibi,” jelasnya.
Sore itu, suasana Bibibi berlangsung meriah. Anak-anak hingga orang dewasa tampak antusias mengikuti jalannya tradisi yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Kota Probolinggo setiap bulan Ramadan. Dalam tradisi ini, warga membagikan berbagai jenis pemberian, seperti uang tunai, susu, minuman, kue, makanan ringan, hingga sembako seperti mi instan.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Probolinggo, Dokter Aminuddin, menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat yang terus menjaga dan melestarikan tradisi lokal sebagai bagian dari identitas budaya daerah.
“Tradisi Bibibi menjadi simbol kebersamaan masyarakat dalam menyambut dan memaknai bulan suci Ramadan. Tradisi ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi serta menjaga kekompakan antarwarga,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan tradisi lokal seperti Bibibi sangat penting untuk terus dijaga di tengah perkembangan zaman, karena mengandung nilai sosial, budaya, dan religius yang kuat, terutama dalam semangat berbagi.
Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Kota Probolinggo mendukung berbagai kegiatan masyarakat yang bernilai positif dan mampu memperkuat kebersamaan serta kearifan lokal.
Pemerintah berharap tradisi Bibibi dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda, sehingga mereka tidak hanya mengenal budaya modern, tetapi juga mencintai budaya daerahnya sendiri.
Selain menjadi ajang pelestarian budaya, Bibibi juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk berkumpul dan merasakan kebersamaan di bulan Ramadan. Tradisi ini sekaligus menjadi daya tarik budaya yang menunjukkan kuatnya nilai gotong royong di tengah masyarakat Kota Probolinggo.
Dengan terus digelarnya tradisi ini setiap malam ke-27 Ramadan, diharapkan nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, serta kearifan lokal masyarakat dapat terus terjaga dari generasi ke generasi.
Salah satu warga, Siti, menceritakan antusiasme anaknya, Nauval (3), yang ikut dalam kegiatan Bibibi.
“Dari siang sudah tidak mau tidur karena ingin ikut Bibibi bersama teman-temannya. Alhamdulillah, sekarang sudah dapat satu tas berisi jajanan dan uang. Terima kasih Bapak Wali Kota, semoga selalu sehat dan Kota Probolinggo semakin maju dan sejahtera,” ungkapnya.

.jpeg)
Posting Komentar