TANGERANG Radar CNN Online– Gelombang protes kembali mendatangi Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tangerang. Forum Persatuan Pemuda Neglasari (FP2N) menggelar aksi massa demi menyuarakan keresahan publik terkait menjamurnya parkir liar truk wing box di sepanjang bahu Jalan Juanda. Dengan membentangkan spanduk bertuliskan “Nyawa Lebih Penting Daripada Jabatan,” massa menuntut tanggung jawab pemerintah atas kecelakaan yang baru-baru ini terjadi.
Ketua FP2N, Thorik Arfansyah, dalam orasinya menyampaikan kritik pedas terhadap kinerja Dishub. Ia menilai pihak berwenang cenderung reaktif dan baru menunjukkan pergerakan setelah jatuh korban jiwa.
"Pembiaran terhadap kendaraan besar yang parkir di bahu jalan adalah bentuk kelalaian nyata. Jika tidak segera ditertibkan, Jalan Juanda akan terus menjadi jalur maut bagi masyarakat," tegas Thorik pada Rabu, 11 Maret 2026.
Senada dengan Thorik, orator aksi bernama Fiqri menunjuk titik spesifik yang menjadi sumber kemacetan dan bahaya, yakni aktivitas truk ekspedisi di sekitar kawasan PT IMS Logistic Head Office. Menurutnya, keberadaan armada besar yang memakan badan jalan tersebut sangat mengganggu arus lalu lintas dan mempersempit ruang gerak pengguna jalan lain.
Massa aksi akhirnya diterima oleh Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Kota Tangerang, Raden Febi Darmawan, ST, M.Si. Dalam audiensi tersebut, Febi menjelaskan bahwa pihaknya tidak bisa serta-merta melakukan penindakan instan karena terikat prosedur regulasi.
Berdasarkan aturan yang berlaku, langkah penertiban memiliki tahapan sebagai berikut:
Pemasangan Rambu: Memasang rambu larangan parkir di titik-titik rawan.
Masa Sosialisasi: Menunggu masa berlaku rambu selama kurang lebih satu bulan.
Eksekusi Penindakan: Melakukan penyisiran dan penindakan tegas terhadap truk yang masih membandel setelah masa sosialisasi usai.
"Kami akan terus berupaya menertibkan oknum sopir yang memanfaatkan bahu jalan untuk beristirahat. Kami juga membuka pintu bagi masyarakat atau pemuda yang memiliki gagasan konstruktif untuk datang berdiskusi langsung dengan pimpinan kami," ujar Febi.
Meski telah mendapat penjelasan teknis, FP2N menegaskan bahwa mereka tidak akan berhenti pada janji administratif. Riki Ade Suryana, perwakilan FP2N lainnya, menyatakan bahwa pihaknya akan terus mengawal kondisi di lapangan secara swadaya.
"Keselamatan warga adalah prioritas tertinggi. Kami tidak ingin ada korban berikutnya. Jika dalam waktu dekat tidak ada perubahan nyata, kami pastikan akan kembali turun ke jalan dengan massa yang lebih besar," pungkas Riki.
Aksi ini menjadi pengingat keras bagi Pemerintah Kota Tangerang bahwa persoalan parkir liar kendaraan berat bukan sekadar masalah estetika kota, melainkan persoalan nyawa dan keselamatan publik yang memerlukan langkah konkret, cepat, dan berkesinambungan.
Redaksi:Safiuddin
Editor:Agl

Posting Komentar