Pertemuan di Kapasari Surabaya Bahas Penguatan Budaya Al-Qur’an dan Spiritual NU, H. M. Hasan Basri Tekankan One Day One Juz hingga Sima’an dan Khotmil Qur’an


SurabayaRadar CNN Online – Upaya membudayakan membaca Al-Qur’an sekaligus memperkuat gerakan spiritual ala ulama Nahdlatul Ulama (NU) dinilai menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk karakter masyarakat yang berakhlak mulia serta memiliki ketahanan batiniah.

Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam pertemuan yang digelar di salah satu depot ternama di kawasan Kapasari, Surabaya, Sabtu (8/8/2026). Pertemuan yang dikemas dalam suasana santai sambil makan siang tersebut juga menjadi momentum untuk menyosialisasikan pentingnya membangun budaya membaca Al-Qur’an serta menghidupkan tradisi spiritual yang selama ini berkembang di kalangan masyarakat NU.

H. M. Hasan Basri, S.Pd.I., selaku Penasehat MWCNU Kecamatan Simokerto, menyampaikan sejumlah panduan strategis dan praktis untuk menerapkan serta memperkuat gerakan membaca Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Menurutnya, membudayakan membaca Al-Qur’an perlu dilakukan secara konsisten dan dimulai dari lingkungan terdekat, baik keluarga maupun komunitas.

Salah satu strategi yang dapat diterapkan, kata Hasan Basri, adalah gerakan One Day One Juz yang dapat dilakukan secara berkelompok berbasis komunitas maupun melalui media digital. Setiap anggota ditargetkan membaca satu juz dalam sehari sehingga dalam satu bulan dapat menyelesaikan khatam Al-Qur’an secara bersama-sama.

Selain itu, tradisi sima’an dan khotmil Qur’an juga dinilai perlu terus dihidupkan. Kegiatan tersebut dapat dilakukan secara rutin di masjid maupun lingkungan masyarakat dengan melibatkan para hafiz untuk membacakan Al-Qur’an dan diikuti masyarakat. Setelah khatam, kegiatan dapat dilanjutkan dengan doa bersama sebagai momentum memperkuat kebersamaan dan keberkahan.

“Budaya membaca Al-Qur’an juga harus ditanamkan sejak dini. Anak-anak dapat dibiasakan mengaji setelah salat Magrib, dengan memperhatikan kefasihan makhraj serta menghafalkan surat-surat pendek dalam kegiatan sehari-hari,” ujar Hasan Basri.

Ia juga menekankan sejumlah pilar gerakan spiritual yang selama ini lekat dengan tradisi keislaman Nahdlatul Ulama. Di antaranya melalui amalan istighosah dan tahlil yang dilakukan secara berkala sebagai sarana memperkuat kebersamaan sekaligus menenangkan jiwa di tengah berbagai kesibukan kehidupan.

Selain itu, keterikatan terhadap sanad keilmuan juga dianggap penting. Menurut Hasan Basri, proses mempelajari ilmu agama sebaiknya tetap mendapatkan bimbingan dari guru atau ulama yang memiliki kapasitas keilmuan. Tradisi sowan kepada kiai juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan sanad keilmuan serta menghindari kesalahan dalam memahami ajaran agama.

Pilar lainnya adalah riyadah dan tirakat spiritual, seperti membiasakan puasa sunah, melaksanakan salat tahajud, tasbih dan witir, serta memperbanyak wirid dan zikir setelah salat.

Sementara konsep tawasul dan tabarruk, termasuk ziarah ke makam para auliya, juga disebut sebagai bagian dari tradisi spiritual yang bertujuan mengingat kematian, mengambil keteladanan dari perjuangan para ulama dan wali, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam kesempatan yang sama, Kyai Moh. Ismail menambahkan bahwa membangun kebiasaan membaca Al-Qur’an tidak harus dimulai dengan target yang berat. Menurutnya, yang paling penting adalah membangun kebiasaan secara bertahap dan istiqamah.

“Mulai dari keluarga. Agendakan waktu mengaji bersama setelah Magrib dan usahakan tanpa gawai agar kegiatan benar-benar menjadi ruang untuk mendekatkan diri kepada Al-Qur’an,” tuturnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk bergabung dalam berbagai komunitas atau jam’iyyah keagamaan yang ada di lingkungan masing-masing, seperti yasinan, tahlilan maupun manaqiban.

Menurutnya, keberadaan komunitas dapat menjadi sarana untuk menjaga semangat dan konsistensi dalam menjalankan amalan keagamaan.

“Lebih baik membaca lima ayat setiap hari tetapi dilakukan secara rutin dan istiqamah, daripada membaca dalam jumlah banyak namun hanya sesekali,” tambahnya.

Pertemuan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai diskusi, tetapi dapat menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali budaya membaca Al-Qur’an dan tradisi spiritual di tengah masyarakat, khususnya melalui lingkungan keluarga, masjid, madrasah serta jam’iyyah keagamaan.

Dengan membangun kebiasaan tersebut secara konsisten, masyarakat diharapkan tidak hanya semakin dekat dengan Al-Qur’an, tetapi juga mampu memperkuat karakter, ketenangan batin, kepedulian sosial, serta nilai-nilai akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.

(Roffa’)

Redaksi: Rofa

0/Post a Comment/Comments

Logo PT Edy Macan Multimedia Center
Kunjungi Kami
Untuk Kebutuhan
Anda