Pencak Silat dan Pendidikan Karakter di Era Menuju Olimpiade, Dari Latihan Fisik hingga Pembentukan Jiwa, Disiplin dan Akhlak Generasi Muda Indonesia



Oleh : Achmad Alfaridizh, M.Pd.

Mahasiswa Doktoral Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel Surabaya | Dosen PAI Universitas Sunan Gresik | Praktisi Pencak Silat


Mari kita renungkan sekali lagi. Apa yang sebenarnya kita cari dari olahraga?

Tubuh yang sehat? Prestasi? Medali? Atau manusia yang lebih baik?

Pertanyaan itu penting direnungkan setiap 9 September, ketika kita memperingati Hari Olahraga Nasional. Sebab olahraga semestinya tidak berhenti pada urusan siapa yang paling cepat, paling kuat, atau paling tinggi berdiri di podium. Di balik gerak tubuh, ada manusia yang sedang dibentuk.

Di sinilah pencak silat menarik perhatian.

Ia bukan sekadar cabang olahraga. Ia lahir dari kebudayaan Nusantara, hidup dalam masyarakat, diwariskan antargenerasi, dan pada 2019 ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. UNESCO mencatat bahwa tradisi pencak silat mencakup dimensi olahraga, seni, bela diri, mental-spiritual, dan solidaritas. Pesilat juga diajarkan menjaga hubungan dengan Tuhan, manusia, dan alam, melindungi diri dan orang lain, menghindari menyakiti lawan, serta memperkuat silaturahmi dan identitas bangsa.

Betapa lengkapnya sebuah olahraga yang kita miliki.

Sayangnya, kita kerap melihat pencak silat hanya dari sisi yang paling kasatmata: pukulan, tendangan, bantingan, dan pertandingan. Padahal, jika dibaca lebih dalam, gelanggang pencak silat sesungguhnya dapat menjadi ruang pendidikan manusia.

Dari Tubuh ke Jiwa

Ilmu olahraga membantu kita memahami bagaimana latihan membangun kebugaran, koordinasi, keseimbangan, kekuatan, dan keterampilan gerak. Psikologi membantu menjelaskan pentingnya regulasi emosi, kepercayaan diri, dan pengendalian diri.

Tetapi pencak silat memiliki sesuatu yang lebih.

Seorang pesilat belajar bahwa kemampuan untuk menyerang bukan berarti kebebasan untuk menyakiti. Ia belajar mengikuti aturan, menghormati guru, menerima kekalahan, mengelola emosi, mengulang gerakan yang sama berkali-kali, dan tetap berlatih ketika tubuh mulai lelah.

Di titik itulah olahraga berubah menjadi pendidikan.

Penelitian mutakhir bahkan menunjukkan bahwa pencak silat berpotensi menjadi medium positive youth development. Ketika latihan diintegrasikan dengan pendekatan pengembangan positif remaja, terdapat peningkatan pada kompetensi, kepercayaan diri, koneksi sosial, karakter, kepedulian, dan kontribusi sosial.

Namun ada catatan penting: manfaat psikologis dan karakter tidak otomatis muncul hanya karena seseorang berlatih bela diri. Kajian sistematis tentang seni bela diri dan kesehatan mental menunjukkan bukti yang masih beragam. Artinya, yang menentukan bukan sekadar apa yang dilatih, tetapi bagaimana latihan itu mendidik.

Maka pertanyaannya bukan hanya: berapa banyak anak yang belajar pencak silat?

Pertanyaan yang lebih penting adalah: manusia seperti apa yang kita bentuk melalui pencak silat?

Akhlak yang Dilatih

Di sinilah pencak silat bertemu dengan pendidikan karakter dan Pendidikan Agama Islam.

Selama ini pendidikan akhlak sering berlangsung melalui nasihat. Anak diberi tahu agar disiplin, sabar, bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan mampu mengendalikan amarah.

Pencak silat menawarkan laboratorium kehidupan yang berbeda.

Kesabaran dilatih ketika satu gerakan harus diulang puluhan kali. Disiplin dibangun melalui rutinitas. Sportivitas diuji ketika kalah. Pengendalian diri dipraktikkan ketika emosi muncul. Penghormatan diwujudkan kepada guru dan lawan.

Sejumlah penelitian tentang pendidikan pencak silat menunjukkan bahwa latihan yang dirancang secara pedagogis dapat menumbuhkan disiplin, tanggung jawab, kejujuran, kesabaran, pengendalian diri, dan kerja sama.

Bukankah akhlak memang seharusnya tumbuh dari latihan, bukan hanya dari nasihat?

Dalam perspektif PAI, inilah titik pentingnya. Pendidikan agama tidak cukup membuat seseorang mengetahui mana yang baik dan buruk. Pendidikan harus membantu seseorang membentuk kebiasaan untuk memilih yang baik, bahkan ketika ia memiliki kekuatan untuk melakukan sebaliknya.

Karena itu, gelanggang pencak silat dapat menjadi ruang pendidikan agama yang hidup. Nilai tidak hanya dibicarakan, tetapi dijalani.

Implementasi Paradigma “Twin Towers” di Gelanggang

Cara pandang semacam ini sebenarnya merupakan contoh konkret paradigma Integrated Twin Towers UIN Sunan Ampel.

Ilmu olahraga berbicara tentang tubuh dan performa. Psikologi menjelaskan emosi, perilaku, dan perkembangan manusia. Pendidikan karakter membahas pembiasaan nilai. Sementara PAI membawa perspektif akhlak, adab, tanggung jawab manusia kepada Tuhan dan sesama.

Keempatnya tidak saling meniadakan. Sebaliknya terintegrasi secara simultan dan menyuguhkan keterpaduan yang sangat menarik.

Ketika beberapa sudut keilmuan ini didialogkan menggunakan pola interdisipliner-transdisipliner, kita akan memperoleh pemahaman yang lebih utuh tentang pencak silat: bukan hanya bagaimana tubuh bergerak, tetapi untuk apa kekuatan itu digunakan dan manusia seperti apa yang lahir darinya.

Itulah semangat Twin Towers: ilmu keislaman dan ilmu-ilmu lainnya tetap memiliki kekhasan, tetapi dipertemukan dalam dialog untuk membaca persoalan manusia secara lebih utuh.

Dan pencak silat memiliki momentum yang sangat besar untuk itu.

Munas XVI IPSI pada April 2026 mengusung tema “Pencak Silat Mendunia Menuju Olimpiade”. Pemerintah juga menegaskan pencak silat sebagai bagian dari jati diri dan budaya bangsa sekaligus mendorong perjuangannya menuju Olimpiade.

Menuju Olimpiade tentu membutuhkan pembenahan teknik, regulasi, keselamatan pertandingan, pembinaan atlet, dan profesionalisme.

Tetapi jangan sampai kita hanya memperbaiki aturan pertandingannya, sementara lupa merawat jiwa pendidikannya.

Sebab kita tidak hanya ingin dunia mengenal pencak silat sebagai olahraga Indonesia. Kita bisa membuat dunia melihat bahwa dari olahraga asli Indonesia dapat lahir manusia yang kuat tubuhnya, sehat jiwanya, matang emosinya, dan luhur akhlaknya. Sangat sesuai dengan lagu Indonesia Raya “Bangunlah jiwanya, bangunlah badanya”.

Pada akhirnya, seorang pendekar tidak diukur dari seberapa keras ia mampu memukul.

Ia diukur dari seberapa kuat ia mampu menahan dirinya ketika memiliki kekuatan untuk memukul.

Maka pertanyaan terbesar pencak silat bukan hanya: “Kapan kita masuk Olimpiade?”. Melainkan: “Manusia seperti apa yang ingin kita kirim ke sana?”.

Jika gelanggang mampu menjawab pertanyaan itu, pencak silat akan jauh lebih sempurna dari sekadar olahraga. bahkan ia pantas disebut sebagai sekolah kehidupan.

Selamat Hari Olahraga, Majulah olahraga Indonesia.

0/Post a Comment/Comments

Logo PT Edy Macan Multimedia Center
Kunjungi Kami
Untuk Kebutuhan
Anda