SAMPANG Radar CNN Online – Di sudut Dusun Lenteng Barat, Desa Nyiloh, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi dua wanita lansia, Masdijha (70) dan adiknya, Patha (60). Puluhan tahun sudah mereka menghabiskan sisa usia di sebuah gubuk reyot yang kini kondisinya nyaris ambruk.
Bangunan berukuran 5x7 meter itu jauh dari definisi tempat tinggal layak. Dinding bambunya telah lapuk dan berlubang, sementara atapnya tak lagi mampu menepis air hujan. Di rumah yang sekaligus berfungsi sebagai dapur inilah, keduanya menjalani getirnya hidup dalam keterbatasan.
Bagi mereka, hujan bukan membawa kesejukan, melainkan beban. Air masuk dengan mudah melalui celah dinding dan atap yang bocor, menggenangi lantai hingga membuat mereka tak bisa memasak.
Kondisi ini diperparah dengan musibah yang menimpa Masdijha. Nenek berusia 70 tahun itu kini hanya bisa terbaring lemah di atas alas tidur seadanya akibat patah tulang setelah terjatuh ke dalam sumur. Tanpa kasur yang memadai, ia berjuang melawan nyeri di tengah dinginnya angin malam yang menembus sela-sela bambu.
Kesunyian menjadi teman setia mereka. Tanpa anak dan keluarga lain, Patha menjadi tulang punggung sekaligus perawat bagi kakaknya yang sakit.
“Kami hanya tinggal berdua. Tidak ada anak, tidak ada keluarga lain. Sejak kecil kami sudah ditinggal orang tua,” tutur Patha lirih kepada tim media, Sabtu (10/1/2026).
Untuk menerangi kegelapan malam, mereka menyambung satu lampu listrik dari rumah tetangga dengan biaya Rp10 ribu per bulan. Demi bertahan hidup setelah kakaknya sakit, Patha terpaksa menjual satu-satunya aset berharga mereka: seekor sapi.
Kisah pilu ini telah sampai ke telinga pemerintah setempat. Pj Kepala Desa Nyiloh, Nuning Fanani, mengonfirmasi bahwa kedua nenek tersebut telah masuk dalam daftar penerima bantuan sosial.
"Kami sudah mengetahui kondisi mereka. Keduanya terdaftar sebagai penerima bantuan kesejahteraan (Kesra) yang dicairkan melalui PT Pos. Dari pihak desa pun kami terus berupaya memberikan bantuan secara berkala," jelas Nuning.
Meski bantuan pemerintah telah mengalir, kondisi fisik rumah yang nyaris roboh masih menjadi ancaman nyata bagi keselamatan Masdijha dan Patha. Kisah mereka adalah potret nyata di pelosok Madura yang memerlukan perhatian lebih dari sekadar bantuan rutin—sebuah solusi nyata untuk tempat tinggal yang aman dan manusiawi di masa senja mereka.
Redaksi:Aziz
Editor: Agl

Posting Komentar