SURABAYA Radar CNN Online— Dari dalam Masjid Al-Mujahidun, suara gemuruh para pencinta Nabi Muhammad SAW berpadu indah saat lantunan Mahallul Qiyam berkumandang. Suara tersebut seolah menjadi wadah untuk menumpahkan kerinduan mendalam kepada Sang Baginda hingga ke relung hati terdalam.
Suasana khusyuk dan haru menyelimuti setiap jamaah yang hadir, membuat mereka hanyut dalam samudra pujian kepada Rasulullah SAW. Aroma wangi dupa dan semerbak bunga melati yang berpadu di udara semakin menambah kekhidmatan acara, seakan membawa setiap jiwa terbang menembus batas waktu dan merasakan kehadiran Nabi di tengah-tengah mereka.
Tradisi Mahallul Qiyam, yang secara harfiah berarti "tempat berdiri", senantiasa menjadi puncak dari setiap peringatan hari besar Islam di berbagai penjuru Nusantara. Saat bacaan sholawat tiba di bagian ini, seluruh jamaah bangkit berdiri tegak sebagai wujud penghormatan serta kecintaan mutlak kepada Nabi Muhammad SAW.
Gerakan berdiri ini jauh dari kesan sekadar ritual formal; ia adalah simbol nyata atas kesiapan umat untuk mengikuti jejak langkah beliau, meneladani akhlak mulia, serta memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Di Masjid Al-Mujahidun, tradisi luhur ini terasa begitu hidup. Mulai dari anak-anak hingga para lansia, semuanya tampak antusias. Wajah-wajah yang hadir memancarkan ketenangan sekaligus kebahagiaan yang tulus.
Bahkan, tak sedikit jamaah yang tak kuasa menahan air mata haru, tersentuh oleh kenangan akan gigihnya perjuangan dan pengorbanan Rasulullah SAW dalam menegakkan agama Islam.
Momen penuh berkah ini menjadi pengingat yang kuat bagi kita semua tentang pentingnya merawat ukhuwah islamiyah serta terus menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sebaik-baik bekal penuntun hidup di dunia dan akhirat.
Redaksi:Roffa


Posting Komentar