TANGERANG, Radar CNN Online - Suasana Jumat sore di RT 03 RW 011 Kelurahan Kutabumi berbeda dari biasanya. Tidak ada pidato kaku di atas panggung. Yang ada hanya tikar, kopi pahit, dan obrolan lepas antara Lurah dengan warganya.
Ade Sunaryo, S.Pd., M.Si, orang nomor satu di Kelurahan Kutabumi, memilih turun langsung. Tujuannya satu: menembak persoalan mendasar — melemahnya peran pemuda di lingkungan.
Kegiatan silaturahmi yang digelar Jumat, 11 September 2026 itu dihadiri Ketua RT 09 Dasim Mantan Ketua RT 03 Wahyu Tri Anggoro, perwakilan Remaja RT 03, Tokoh Masyarakat RW 011, serta puluhan warga. Hadir pula Alex Salembun, Plt. Ketua DPC Perkumpulan Wartawan Fast Respon Nusantara (PW FRN) Counter Polri Kabupaten Tangerang, sebagai mitra pemantau sosial.
Di tengah diskusi, Ade memotong obrolan dan mengarahkan ke inti masalah.
"Selama ini kita sering dengar ‘pemuda penerus bangsa’. Tapi faktanya, di banyak kegiatan RT, yang hadir itu-itu saja. Bapak-bapak dan ibu-ibu. Pemudanya ke mana?" tanya Ade.
Ia menegaskan, pemuda tidak boleh diposisikan sebagai pelengkap acara 17-an saja.
"Pemuda bukan hanya penonton, tetapi harus hadir, peduli, dan mengambil bagian dalam kegiatan lingkungan. Kalau bukan kita yang jaga kampung kita, siapa lagi?" tegasnya disambut anggukan warga.
Ade membeberkan 3 jalur konkret yang harus digarap pemuda Kutabumi:
1.Karang Taruna Unit/Sub Unit: Sebagai motor kegiatan sosial, olahraga, dan kewirausahaan.
2. Remaja Masjid Sebagai pusat pembinaan karakter dan kegiatan keagamaan.
3. Kegiatan Kemasyarakatan: Mulai dari ronda, kerja bakti, sampai posko siaga bencana.
"Dari 3 titik inilah kita cetak generasi yang jadi teladan. Ini upaya preventif kita. Cegah tawuran, cegah narkoba, cegah lingkungan mati karena tidak ada yang menggerakkan," jelasnya.
Lurah Kutabumi menargetkan sebelum Desember 2026, setiap RW di Kutabumi sudah punya Sub-Unit Karang Taruna yang aktif dan punya program.
"Kita tidak mau Karang Taruna hanya ada namanya di SK. Harus ada kegiatan, ada anggaran, ada kader. Nanti kelurahan akan fasilitasi pelatihan dan pendampingan," ungkap Ade.
Ia juga meminta RT/RW tidak ragu merangkul pemuda, bahkan memberi ruang di kepengurusan. "Kasih mereka amanah. Kasih mereka panggung. Jangan tunggu mereka tua dulu baru kita percaya."
Apresiasi mengalir dari warga. Mulyono, warga RT 03, mengaku sudah lama tidak melihat pejabat kelurahan duduk lesehan dan mendengar langsung keluh kesah.
"Ini contoh pejabat yang merakyat. Beliau mau turun langsung bersilaturahmi dengan warganya. Duduk sama rata, ngobrol sama warga. Hal ini patut kita acungi jempol," kata Mulyono.
Hal senada disampaikan Wahyu Tri Anggoro Mantan Ketua RT 03. Menurutnya, kehadiran lurah memberi energi baru.
"Selama ini program ada, tapi eksekusinya kurang. Dengan cara seperti ini, warga jadi semangat lagi. Apalagi pesannya ke pemuda, itu yang kita butuhkan."
Dasim Ketua RT 09, menambahkan bahwa dialog seperti ini harus rutin. "Jangan nunggu ada masalah baru ketemu. Kalau tiap bulan bisa ngopi bareng seperti ini, insyaAllah RW 011 bisa jadi contoh."
Kutabumi, sebagai salah satu kelurahan padat di Pasar Kemis, menghadapi tantangan klasik perkotaan: urbanisasi, kesenjangan, dan potensi kerawanan sosial.
Langkah Ade Sunaryo ini bisa dibaca sebagai strategi 2 arah. Ke dalam, untuk menguatkan kohesi warga. Ke luar, untuk menunjukkan bahwa pemerintah kelurahan hadir dan tidak gagap terhadap isu generasi.
Dengan pekikan Pemuda Bergerak, Lingkungan Kuat! Kutabumi ingin membuktikan bahwa pembangunan tidak cukup dengan infrastruktur. Fondasi sosial, terutama peran pemuda, adalah kunci.
Kutabumi Bravo. Pasar Kemis Harmonis. Kabupaten Tangerang Semakin Gemilang.
Redaksi: Yusuf


Posting Komentar