SAMPANG, Radar CNN Online — Di balik catatan sejarah resmi, Tanah Madura menyimpan permata tersembunyi dalam bentuk tutur lisan yang nyaris sirna ditelan zaman. Salah satu kisah yang paling memikat adalah legenda mengenai Angke, seorang tokoh sepuh dari wilayah Duek Poteh, Sampang, yang jejaknya kini mulai memudar dari ingatan publik.
Dalam ingatan kolektif masyarakat setempat, Angke bukan sekadar sosok tua biasa. Ia dikenang sebagai pemimpin yang memiliki karisma luar biasa dan kedekatan spiritual yang kental dengan alam. Fragmen paling ikonik dari kisahnya adalah kemampuan Angke dalam menaklukkan samudera.
Konon, sang sesepuh diyakini mampu mengarungi lautan luas dengan menunggangi seekor Ikan Suro (ikan hiu). Legenda ini melambangkan simbol kesaktian sekaligus kedalaman ilmu yang dimiliki oleh tokoh-tokoh besar Madura pada masa silam, menjadikan sosoknya melegenda melampaui batas logika manusia modern.
Namun, kehidupan Angke tidak luput dari terpaan badai. Sejarah lisan mencatat bahwa pada masa itu, Sampang tengah didera gejolak hebat berupa konflik internal atau perang antar-saudara. Kesalahpahaman dan perselisihan kepentingan antar-kelompok berpengaruh menciptakan situasi yang tidak lagi kondusif.
Demi menjaga keselamatan keluarga besar dan para pengikut setianya, Angke mengambil keputusan besar: meninggalkan tanah kelahiran. Eksodus ini menjadi babak baru yang penuh haru sekaligus menjadi penyebab utama pudarnya jejak sejarah keluarga besar tersebut. Karena minimnya dokumentasi tertulis, perjalanan mereka perlahan hanya tersisa dalam rupa dongeng pengantar tidur.
Prinsip hidup keluarga besar Angke terangkum dalam ungkapan Madura yang sangat mendalam: “Duek poteh, banyu ates”. Falsafah ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cerminan tekad yang putih (suci), keberanian yang murni, serta kehormatan yang dijunjung setinggi langit. Bagi Angke, lebih baik menempuh jalan sunyi di tanah pengembaraan daripada hidup dalam martabat yang tergerus pertikaian.
Kini, potret sejarah Angke dan keluarganya berada di ambang pelupaan. Meski belum tercatat dalam buku-buku sejarah nasional, kisah ini tetap memegang peranan krusial sebagai identitas budaya dan warisan leluhur masyarakat Sampang.
Pelestarian sejarah lisan semacam ini menjadi sangat penting agar generasi mendatang tidak kehilangan kompas jati diri mereka. Menjaga kisah Angke berarti menjaga ingatan tentang keteguhan prinsip, keberanian, dan pengabdian seorang leluhur di tengah badai kehidupan.

Posting Komentar