PASURUAN Radar CNN Online– Dunia pendidikan di Kabupaten Pasuruan kembali tercoreng oleh dugaan tindakan kekerasan terhadap anak di bawah umur. Seorang siswi kelas 1 SDN Wonosari 1, Kecamatan Tutur, dilaporkan mengalami kekerasan fisik yang diduga dilakukan oleh salah satu wali murid pada Senin, 21 April 2026.
Peristiwa yang terjadi di area sekolah tersebut seketika memicu keresahan masyarakat. Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban diduga mengalami intimidasi fisik berupa penjambakan rambut oleh orang dewasa. Tak hanya luka fisik, dampak psikologis yang dialami korban jauh lebih mengkhawatirkan.
Pihak keluarga korban menyampaikan keberatan yang mendalam atas insiden ini. Menurut penuturan keluarga, pasca-kejadian tersebut, sang anak menunjukkan gejala trauma hebat hingga menolak untuk kembali bersekolah.
"Anak kami sekarang ketakutan dan tidak mau sekolah lagi," ungkap perwakilan keluarga korban dengan nada penuh kekecewaan.
Kekecewaan keluarga semakin memuncak lantaran proses klarifikasi yang diharapkan berjalan adil justru terasa buntu. Alih-alih mendapatkan permohonan maaf yang tulus, pihak keluarga menyebut bahwa terduga pelaku justru memberikan pernyataan-pernyataan di grup WhatsApp yang dinilai menyudutkan korban.
Lambatnya respons dari pihak SDN Wonosari 1 memicu sorotan tajam dari berbagai elemen masyarakat. Pihak sekolah dinilai kurang tegas dan cenderung tertutup dalam menangani kasus yang menyangkut keamanan peserta didik.
Sebagai lembaga pendidikan, sekolah memiliki mandat konstitusional untuk menjamin perlindungan anak selama berada di bawah pengawasan mereka. Absennya keterangan resmi dari pihak sekolah hingga saat ini memperkuat desakan publik agar institusi pendidikan tersebut lebih transparan dan objektif.
Masyarakat dan pengamat perlindungan anak kini mendesak agar kasus ini tidak diselesaikan secara sepihak di balik pintu tertutup. Penanganan secara objektif sesuai Undang-Undang Perlindungan Anak menjadi harapan utama agar memberikan efek jera dan memastikan hak-hak korban terpenuhi.
Hingga berita ini diterbitkan, publik masih menunggu langkah konkret dari pihak sekolah maupun otoritas pendidikan setempat untuk memulihkan trauma korban dan menjamin keamanan seluruh siswa di lingkungan sekolah tersebut.
Redaksi:Aziz
Editor:Agl

Posting Komentar