YOGYAKARTA Radar CNN Online— Nama Paul Hendrawan tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat yang memerhatikan dunia pusaka nusantara. Pria berusia 58 tahun kelahiran Tanjungkarang, Lampung, 11 Februari 1968 ini merupakan anak dari seorang ayah pengayuh becak dan ibu buruh harian. Berlatar belakang dari keluarga sederhana, ia kini menjelma menjadi figur terkemuka yang dijuluki sebagai "Master Bambu Petuk Indonesia".
Bang Paul, sapaan akrabnya, telah malang melintang di dunia literasi dan perpusakaan Indonesia sejak tahun 2006. Melalui berbagai platform media sosial seperti Facebook, Instagram, hingga kanal YouTube resminya di @PaulHendrawannew, ia secara konsisten mendedikasikan dirinya untuk mengedukasi masyarakat luas Rabu (16/09/2026). Tujuannya satu: agar masyarakat tidak mudah tertipu oleh oknum tidak bertanggung jawab yang memperjualbelikan pusaka bertuah palsu dengan harga fantastis.
Tidak dapat dipungkiri, ketertarikan masyarakat terhadap hal-hal mistis dan pusaka bertuah masih sangat tinggi di Indonesia. Banyak orang rela merogoh kocek hingga puluhan, ratusan, bahkan miliaran rupiah demi memburu pusaka unik yang dipercaya memiliki khasiat tertentu.
Selama kurang lebih 20 tahun, Bang Paul telah berkeliling dari Sabang sampai Merauke. Perjalanan panjang ini ia lakukan semata-mata untuk memberikan wawasan serta pencerahan kepada masyarakat awam agar berpikir rasional dan tidak mudah percaya pada klaim keaslian pusaka warisan masa lalu yang belum tentu kebenarannya.
Bang Paul secara khusus memfokuskan perhatiannya pada pusaka bertuah Bambu Petuk—sebuah bambu unik yang kedua ruasnya saling berhadap-hadapan. Dalam mitos masyarakat, bambu ini diyakini mampu mendatangkan kekayaan, pelaris dagangan, kewibawaan, tolak bala, hingga keberuntungan. Sayangnya, keunikan ini sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk meraup keuntungan lewat jalur pemalsuan, seperti menyambung bambu menggunakan sock (penyambung) dan memolesnya agar tampak asli.
Meski telah ribuan bambu petuk palsu berhasil ia bongkar kedoknya, Bang Paul tetap menghargai keaslian alam. Pada tahun 2007 silam, ia bahkan pernah membuktikan dan membeli sebuah Bambu Petuk asli dengan harga fantastis mencapai Rp1 Miliar.
Berdasarkan pengalaman panjangnya di dunia perbambu petuk'an, tidak sedikit pemilik yang mengklaim memiliki bambu petuk asli, namun setelah ditinjau langsung oleh Bang Paul, barang tersebut terbukti palsu. Untuk menyaring keaslian dan mempermudah verifikasi, ia menetapkan dua persyaratan khusus bagi masyarakat yang ingin menunjukkan atau menjual bambu petuk miliknya:
- Kunjungan ke Padepokan (Bantul, Yogyakarta): Pemilik datang langsung ke kediaman Bang Paul di Dusun Jipangan, RT.07, Kelurahan Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul (lokasi Google Maps: Padepokan Bambu Petuk) dengan membayar biaya administrasi booking sebesar Rp1 Juta. Jika bambu terbukti asli alami dan disepakati untuk dijual, uang administrasi tersebut akan dikembalikan penuh, dan bambu akan dihargai Rp2,5 Miliar ditambah bonus biaya transportasi.
- Kunjungan ke Lokasi Pemilik (Khusus Wilayah Surabaya atau Jakarta): Pemilik mendatangkan Bang Paul langsung ke lokasi dengan biaya administrasi sebesar Rp10 Juta. Jika terbukti asli alami dan hendak dijual, biaya administrasi dikembalikan, serta Bang Paul akan memberikan hadiah spesial berupa 1 unit mobil Pajero keluaran terbaru.
Di balik konsistensinya menggeluti dunia pusaka, ayah dari 5 anak ini tetap menanamkan pesan moral yang kuat kepada masyarakat. "Saya akan terus mengedukasi, memberikan pemahaman serta pembelajaran untuk masyarakat, bahwa yang paling sangat utama adalah percaya sepenuhnya terhadap sang pencipta, yakni Gusti Allah yang Maha Agung... Memiliki pusaka bertuah hanyalah sebuah seni dalam kehidupan, tetapi percaya Sang Khalik adalah kunci kita di akhirat nanti," pungkasnya kepada Radar CNN.
Redaksi:Yoyon

Posting Komentar