Demi Sebuah Piala, Rakyat Dikorbankan: Ironi Adipura dan Realitas Kebersihan yang Masih Menyengat di Kota Tangerang

  

Kota Tangerang, Radar CNN Online — Demi ambisi meraih Piala Adipura dan predikat Kota Bersih Tingkat Nasional, jajaran Pemerintah Kota Tangerang dari tingkat lurah, camat, hingga ASN turun langsung ke lapangan untuk membersihkan sampah dan memperindah lingkungan.

Sejak lama, penghargaan Adipura dianggap sebagai prestasi membanggakan bagi sebuah kota. Pencapaian ini seolah menjadi bukti bahwa pemerintah daerah berhasil menjaga kebersihan, menata lingkungan, dan merawat ruang publik.

Citra kota bersih kemudian ditampilkan ke publik melalui jalan-jalan protokol yang tertataruang terbuka hijau yang terpeliharadrainase yang berfungsi baikpenertiban pedagang di fasilitas umum, hingga pengelolaan sampah di TPS dan TPA. Namun di balik semua itu, muncul pertanyaan: apakah kebersihan ini benar-benar berkelanjutan, atau hanya sebatas pencitraan demi sebuah piala?

Ironisnya, demi mengejar predikat kota bersih, rakyat kecil justru menjadi korban. Banyak pedagang kaki lima yang digusur tanpa ganti rugi demi menata trotoar agar tampak bersih, sementara di sisi lain, TPS liar justru masih beroperasi.

Kondisi ini terlihat nyata di Kelurahan Pabuaran Tumpeng, Jalan Mohammad Toha, Kecamatan Karawaci, yang berada di wilayah kerja UPT DLH Barat Kota Tangerang. Di sana, tumpukan sampah masih berserakan di jalan, menimbulkan bau menyengat, bahkan menyebabkan kemacetan panjang akibat truk sampah yang terparkir berjam-jam di jalan protokol untuk memindahkan sampah dari gerobak. Inilah wajah buram Kota Tangerang di balik slogan “kota bersih”.

Realitas di lapangan masih jauh dari harapan. Tumpukan sampah masih ditemukan di banyak titik, menciptakan ironi di tengah kampanye kebersihan yang gencar digaungkan pemerintah daerah.

Piala Adipura hanyalah simbol. Masyarakat tidak butuh piala — mereka butuh kesejahteraan. Saat pedagang kecil kehilangan penghasilan karena lapak mereka digusur demi estetika kota, para pejabat justru tetap menerima gaji, tunjangan, dan penghargaan.

Bagi masyarakat kecil, ini bukan kebanggaan, melainkan kutukan: dikorbankan demi sebuah piala yang hanya berumur sehari — saat difoto dan diarak di jalan.

“Bangga? Tentu boleh. Tapi apa gunanya Piala Adipura jika kenyataan sehari-hari masih menelanjangi minimnya pelayanan dasar?”

Sebuah pertanyaan yang patut dijawab oleh pemerintah:
Untuk siapa sebenarnya Adipura itu? Untuk rakyat, atau untuk ego pejabat yang ingin dipuji?

Redaksi: Ysf
Editor: Mnd

0/Post a Comment/Comments

Logo PT Edy Macan Multimedia Center
Kunjungi Kami
Untuk Kebutuhan
Anda