Oase Kasih di Mayangan: Saat Ning Tiwi Memeluk Mimpi Anak-Anak Yatim Probolinggo

PROBOLINGGO Radar CNN Online– Di balik riuh rendah kehidupan kota, sebuah momen sarat makna tercipta di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Senin (06/04/2026). Kehadiran sosok Hj. Sri Setyo Pertiwi—yang akrab disapa Ning Tiwi—di Yayasan KH Abu Bakar, bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan sebuah perjumpaan hati yang menyalakan kembali lentera harapan bagi puluhan anak yatim piatu.

Ketua Umum Pertiwi Nusantara Bersatu ini kembali hadir sebagai sosok ibu, mendekap kerinduan anak-anak yang telah kehilangan sandaran utama dalam hidup mereka.

Siang itu, suasana yayasan mendadak hangat. Mata jernih anak-anak asuh berbinar saat menyambut sosok yang selalu mereka nantikan. Di tengah sunyinya rindu kepada orang tua yang telah tiada, kehadiran Ning Tiwi menjadi pelipur lara yang nyata. Dengan kelembutan seorang ibu, ia menatap dalam satu per satu wajah penuh harap itu, seolah menyalurkan energi kekuatan.

"Kalian adalah anak-anak kuat dan istimewa. Jangan pernah merasa sendiri, karena masa depan kalian masih sangat panjang untuk diperjuangkan," ucap Ning Tiwi dengan nada suara yang menenangkan, memecah keheningan ruangan.

Bagi Ning Tiwi, agenda ini bukanlah rutinitas organisasi, melainkan komitmen batin yang terus dirawat. Meski bantuan materi diberikan, esensi utama dari pertemuan ini adalah kehadiran. Ia ingin memastikan bahwa anak-anak ini tidak merasa berjalan sendirian di dunia yang terkadang terasa keras.

Momen khidmat tercipta saat Ning Tiwi memimpin pembacaan teks Pancasila. Suara lantang anak-anak yang mengikuti setiap butirnya menggema, menjadi simbol bahwa meski tumbuh dalam keterbatasan, semangat kebangsaan dan mimpi besar untuk negara tetap tertanam kuat di dada mereka.

Pengasuh Yayasan, Ustadz Muhammad Toyib, tak mampu membendung rasa harunya. Ia mengisahkan bagaimana anak-anak asuhnya selalu menantikan kehadiran Ning Tiwi bukan karena apa yang dibawa, melainkan karena kasih sayang tulus yang dirasakan.

"Kehadiran beliau adalah kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan materi. Ini adalah bentuk kasih sayang nyata yang memberi mereka semangat untuk terus melangkah," ungkapnya tulus.

Acara ditutup dengan doa bersama yang menggetarkan. Dalam setiap untaian doa para santri, terselip harapan sederhana: ingin tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan dan meraih masa depan cerah. Kisah di sudut Mayangan ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa sekecil apa pun sentuhan kasih yang diberikan, ia mampu menjadi obat bagi luka dan cahaya bagi masa depan yang sempat meredup.

Redaksi:Team

Editor:Agl

0/Post a Comment/Comments

Logo PT Edy Macan Multimedia Center
Kunjungi Kami
Untuk Kebutuhan
Anda