Jakarta, Radar CNN Online — Nilai tukar rupiah yang kembali melemah hingga mencapai Rp17.433 per Dolar AS menuai sorotan tajam dari BEM PTNU Se-Nusantara. Kondisi tersebut dinilai bukan sekadar dampak gejolak ekonomi global, tetapi juga mencerminkan lemahnya ketahanan ekonomi nasional serta lambannya respons kebijakan pemerintah dalam menghadapi tekanan ekonomi.
Ketua BEM PTNU Se-Nusantara, Muhammad Ikhsanurrizqi, menyebut anjloknya rupiah sebagai alarm keras yang tidak boleh diabaikan. Menurutnya, dampak pelemahan mata uang sangat dirasakan masyarakat, terutama kalangan ekonomi menengah ke bawah yang kini menghadapi lonjakan harga kebutuhan sehari-hari.
Selain berdampak pada sektor rumah tangga, pelemahan rupiah juga dinilai berpotensi menekan sektor industri dan UMKM akibat naiknya biaya bahan baku serta ketidakstabilan pasar. Jika kondisi tersebut terus berlanjut tanpa langkah strategis yang jelas, dikhawatirkan akan memicu meningkatnya angka kemiskinan dan ketimpangan sosial.
BEM PTNU Se-Nusantara meminta pemerintah untuk tidak hanya mengeluarkan pernyataan normatif, tetapi segera mengambil kebijakan luar biasa guna menjaga stabilitas ekonomi nasional. Langkah tersebut dinilai penting agar kepercayaan publik terhadap pemerintah tetap terjaga serta mencegah meluasnya dampak krisis ekonomi ke sektor sosial dan kehidupan masyarakat secara umum.
Redaksi: Team
Posting Komentar