SEMARANG Radar CNN Online– Menjelang perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, dinamika bursa kepemimpinan nasional mulai mengerucut pada penguatan visi dan nilai-nilai dasar organisasi. Salah satu figur yang menjadi sorotan adalah KH Abdussalam Shohib (Gus Salam). Dukungan signifikan datang dari para Masyayikh Sarang, Rembang, yang memberikan restu serta doa bagi cucu pendiri NU tersebut untuk memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ke depan.
Momentum ini mengemuka usai Gus Salam melakukan rangkaian silaturahmi ke sejumlah kiai sepuh di Jawa Tengah, termasuk sowan ke KH M. Said Abdurrochim (PP Ma'hadul 'Ulum Asy-Syar'iyyah/MUS Sarang) dan KH Abdul Qoyyum Manshur (Lasem), Jumat (8/5/2026).
"Dulu saya tabarrukan (mencari berkah) mengaji kitab di Sarang. Alhamdulillah, hari ini bisa kembali sowan untuk memohon restu, nasihat, dan doa demi ikhtiar berkhidmat di NU pada Muktamar mendatang," ungkap Gus Salam saat ditemui di kediaman Rais Syuriyah PWNU Jateng, KH Ubaidillah Shodaqoh, Semarang.
Dukungan dari Sarang bukan tanpa alasan. KH Achmad Rosikh Roghibi (Gus Rosikh), Pengasuh PP Ma'hadul Ilmi Asy-Syar'i (MIS) Sarang, menegaskan bahwa para kiai pengasuh pesantren di Sarang telah mencapai kesepahaman untuk mendukung Gus Salam.
"Gus Salam adalah figur yang paling tepat. Beliau memiliki kepedulian tinggi terhadap masa depan jam’iyyah, terutama dalam menjaga kemurnian nilai-nilai Aswaja di tengah tantangan zaman yang kian kompleks," ujar Gus Rosikh.
Menurut Gus Rosikh, NU di abad kedua membutuhkan "mesin baru" sekaligus pengemudi yang memahami arah tujuan awal para pendiri. Kepemimpinan yang berasal dari dzuriyah muassis (keturunan pendiri) dianggap krusial untuk menjaga kesinambungan ruh perjuangan agar tidak tercerabut dari akar historisnya.
Dalam pertemuan dengan PCNU se-Karesidenan Semarang dan Pati, Gus Salam menyerap banyak aspirasi mengenai pentingnya kedekatan PBNU dengan akar rumput, khususnya lembaga pendidikan seperti TPQ dan Madrasah Diniyah. Rekam jejak Gus Salam yang kuat di level organisasi namun tetap berpijak pada tradisi pesantren menjadi modal utama.
Gus Rosikh menambahkan bahwa pemimpin NU masa depan harus memiliki roadmap yang jelas, bukan sekadar kuat secara simbolik.
"NU butuh pemimpin yang menjadi penjaga warisan para muassis, yang tulus merawat pesantren, dan mampu memastikan NU tetap pada jati dirinya sebagai jam’iyyah diniyah ijtima’iyyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan)," tegasnya.
Melalui dukungan ini, para kiai berharap Muktamar ke-35 tidak terjebak dalam polarisasi politik pragmatis. Sebaliknya, momentum ini harus menjadi ruang refleksi ideologis agar NU tetap relevan sebagai pemandu umat di tengah disrupsi global dan krisis moral.
Meskipun dalam rangkaian kunjungannya Gus Salam belum sempat bertemu dengan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) karena kondisi kesehatan beliau, namun gelombang dukungan dari pesantren-pesantren besar di Jawa Tengah ini menjadi sinyal kuat bahwa narasi kembali ke khittah dan penguatan khidmah pesantren akan menjadi agenda utama dalam Muktamar mendatang.
Redaksi:Team
Editor:Agl

Posting Komentar